Sabtu, 26 Maret 2011

PSIKOLOGI ANAK - Konsep anak tentang kesehatan

LIFE CYCLE – PSIKOLOGI ANAK

KONSEP ANAK-ANAK TENTANG KESEHATAN DAN KESAKITAN
Pengetahuan mengenai konsep kesehatan dan kesakitan pertam-tama penting bagi anak sendiri, yaitu menerangkan kesehatan dan kesakitan kepada mereka. Seperti yang dikatakan Eiser (1988), hal ini terutama penting untuk pendidikan kesehatan umum, kesakitan yang akut,opname di rumah sakit, dan penyakit kronis.
  1. Menurut Eiser, semua anak perlu mengembangkan sikap-sikap positif terhadap perawatan diri sendiri dan perilaku kesehatan mereka saat itu, tetapi juga karena sikap-sikap ini berkaitan dengan keyakinan kesehatan positif pada kaum dewasa. Misalnya, diet lemak, tidak hanya berkaitan dengan kegemukan (obesity) semasa kanak-kanak, tetapi juga menambah resiko terkena penyakit-penyakit kardiovaskuler.
  2. Episode-episode kesakitan yang akut dan opname di rumah sakit dapat member stress bagi anak dan kadang-kadang menimbulkan akibat-akibat yang merugikan dalam kurun waktu lama. Diakui bahwa anak-anak berhak mendapat, dan beruntung dari keterangan tentang kesakitan dan prosedur-prosedur medis. Contohnya, anak yang telah mendapat informasi – sesuai dengan tingkat kognitif mereka – tentang apa yang akan terjadi di rumah sakit, biasanya kurang menderita.
  3. Anak-anak dengan penyakit kronis mempunyai persamaan bahwa tidak ada obat yang dapat diperoleh , dan bahwa penyakit-penyakit itu mempengaruhi anak selama paling singkat 3 bulan, seringkali selama hidup. Para orang tua dan anak biasanya didorong agar menjadi bertanggung jawab atas banyak segi perawatan medis. Hal ini mencakup pengobatan diri, perhatian padadiet dan latihan. Contohnya, parapenderita diabetes, perlu belajar bagaimana mengetes tingkat glukosa darah.menyuntikkan insulin diri sendiri, mengatur dosis bergantung pada kondisi kesehatan, makan makanan yang cocok, dan melakukan perawatan ritun yang khusus untukmencegah komplikasi-komplikasi.
  4. Sedikit pengetahuan perlu agar anak dapat memikul tingkat tanggung jawab sendiri (Eiser,1990).
  5. Burbach dan Peterson (1986) menambahkan argument lainnya. Mereka menyatakan bahwa pengetahuan tenaga kesehatan mengenai konsep kesakitan anak memperbaiki komunikasi antara pakar kesehatan dengan anak mengenai pencegahan dan pengobatan kesakitan. Lagi pula, komunikasi yangdiperbaiki membuahkan intervensi yang lebih efektif pada kesehatan anak.
  6. Mereka percaya bahwa konsep anak tentang kesakitan mungkin mempengaruhi serangan, jalan, dan ‘prognosis’ kesakitan pada anak-anak. misalnya selama tahap awal perkembangan kognitif, anak-anak mungkin yakin bahwa “hanya orang-orang jahat yang jatuh sakit”.
  7. Lebih lanjut, pemahaman yang lebih baik tentang konsep anak-anak tentang kesakitan dan personil medis, membantu para tenaga kesehatan mengurangi kecemasan dan meningkatkan ketaatan pada aturan medis (regiment compliance).

Khusus bagi anak-anak yang sakit kronis dan/atau dirawat di rumah sakit lebih banyak pengetahuan tentang konsep, sikap dan keyakinan mereka itu penting. Konsep-konsep mereka yang salah tentang proses penyakit dan efek pada badan, mungkin mengurangi keinginan mereka untuk menerima pengobatan yang diharuskan. Informasi yang lebih banyak dan lebih baik,seharusnya mengacu kepersiapan yang lebih baik bagi anak muda yang sakit. (Eiser, 1985).
  1. Pengetahuan Tentang Badan (Body Knowledge)
Melukiskan perubahan-perubahan kognitif anak-anak dalam proses memahami badan, pengetahuan dansikap-sikap terhadap badan, hal ini penting dengan berbagai macam alas an (Glaun dan Rosenthal,1987:Eiser,1985):
a.       Pendidikan kesehatan yang efektif tergantung pada pengetahuan anatomi dan fisiologi secara tepat.
b.      Komunikasi dengan anak-anak yang menderita sakit kronis : keterangan-keterangan tentang penyakit , pengobatannya dan konsekuensi-konsekuensinya seharusnya tidak hanya berwujud versi-versi buku-buku medis melainkan dibuat cocok dengan status kognitif.

Tidak mengherankan bahwa pengetahuan tentang badan bertambah bersama umur, tetapi tantangan yang sesungguhnya ialah menerangkan mengapa pengetahuan anak itu maju dengan urutan yang dapat diramalkan (Glaun dan Rosenthal,1987) atau bagaimana pengetahuan semacam itu diperoleh (Eiser, 1985).
Cridder, pada tahun 1981 berhipotesis bahwa pengetahuan anak tentang badan itu bertambah lewat urut-urutan sistematis dan dapat diramalkan,mengikuti tahap-tahap Piaget. Penelitian lainnya sepertinya menegaskan kerangka ini dan mengemukakan bahwa urutan tertentu dalam memperoleh pengetahuan mungkin paling baik dapatdipahami dalam kerangka teori perkembangan Piaget (Glaun dan Rosenthal, 1987). Namun, rangka konseptual ini jugadikritik (Eiser, 1985). Galun dan Rosenthal sudah melihat kelemahan-kelemahan metodologis yang disebabkan adanya kepercayaan yang berlebihan atas menggambar sebagai sarana untuk mendapatkan informasi dari anak-anak. Mereka menambahkan wawancara untuk memperoleh keterangan anak tentangpersepsibadannya.eiser (1985)masih menandaskan bahwa metoseini mungkinmenutupi konsep-konsep yang salah mengenai badan.
  1. Konsep-Konsep Penyakit dan Kesakitan
Pada masa silam, perhatian lebih banyak diberikan kepada segi-segi psikodinamiskesakitan anak-anak.penelitianpsikodinamis memusatkan pada pengaruh intrapsikis kesakitan (Burbach dan Peterson, 1986).contohnya, hubungan antaraopname di rumah sakit dan kecemasan akan perpisahan (separation anxiety).
Pendekatan-pendekatan sosiologis memusatkan pada factor-faktor social dan budaya , dan menekankan pengaruh kuat proses sosialisasi umum pada keyakinan kesehatan anak dan perilaku peran sakit (sick-role behavior). Campbell, seorang pendukung pendekatan ini, menekankan hubungan penting antara cirri-ciri statussosial orangtua dengan orientasi-oerientasi kesehatan anak dan perilaku berikutnya (Campbell, 1978).
Bagaimana penyakit kronis bisa mempengaruhi konsep tentangkesehatan dan kesakitan? Dua ramalanteoritis yang berlawanan tentang cara-cara konseptualisasi anak tentang kesehatan dipengaruhi oleh kesakitan yang kronis. Para pekerja yang menerima posisi Piaget, meramalkan bahwa anak-anak yangsakit kronis akan berpengetahuan lebih banyak tentang kesehatan dan hal-hal yang terkait daripada anak-anak yang sehat. Suatuposisi alternative ialah bahwa “…the experience of illness has such overwhelming emotional commitants that the level of conceptualization with respectto the illness is inhibited or regressed..”(Eiser, 1985 ; Eiser,dkk,1983). Data-data dari Eiser dkk (1983) menyarankan bahwa keyakinan yang umum tentang konsep-konsep yang berkaitan dengan kesakitan, aiantara anak-anak tidak pengaruhi oleh status kesehatan seseorang.
Menurut Eiser, Patterson dan Tripp (1984) sebagian besat penelitian ini tidak membandingkan antaraanak yang sehat dengan anak yang sakit, sehingga kesimpulan-kesimpulan dari penelitian tersebut terbatas. Untuk mengatasi problema ini mereka membandingkan anak-anak diabetes dengan kelompok anak sehat. Mereka menyimpulkan bahwa penyakit kurang mempengaruhi (secaralangsung)konsep-konsep anak tentangpenyakit; pengetahuan tentang beberapa segi penyakit tergantung baik pada umur anak maupun pada penyakit.
(sumber : Smet,Bart.1994.Psikologi Kesehatan.Jakarta:Grasindo.)

0 komentar:

Posting Komentar

Resources

Search