Senin, 28 Maret 2011

Pengertian Pendarahan Postpartum Sekunder

Pengertian Pendarahan Postpartum Sekunder

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Kematian maternal telah lama digunakan sebagai indikator penting yang memberikan petunjuk mengenai tingkat kesehatan wanita yang berhubungan dengan perilaku reproduksi.
Salah satu faktor yang penting dalam tingginya tingkat kematian maternal di negara berkembang adalah faktor-faktor pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, perlu diketahui tindakan yang tepat dan cepat dalam penatalaksanaannya.
B.    Tujuan
1.    Untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Obstetri.
2.    Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan kedaruratan obstetrik pada:
  • Perdarahan postpartum sekunder
  • Sepsis puerpuralis
  • Asphyksia neonatorum
  • Syok obstetri
  • Distosia bahu



BAB II
PEMBAHASAN


A.    Perdarahan Postpartum Sekunder
Perdarahan postpartum sekunder adalah perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pertama sampai 6 minggu setelah persalinan. Perdarahan postpartum biasa disebut dengan perdarahan postpartum lanjut atau late postpartum hemorrhagie.
Penyebab utama perdarahan postpartum sekunder adalah :
  • Adanya sisa plasenta atau selaput ketuban yang tertinggal di dalam rahim.
  • Terlepasnya jaringan mati / nekrotik (pada serviks, vagina, vesika urinaria, atau rektum) setelah partus macet.
  • Robeknya bekas luka pada uretus.
Gejala
Gejala klinis berupa perdarahan yang berlangsung terus-menerus atau berulang melampaui batas pengeluaran lochea normal, dan dapat disertai rasa sakit di daerah uterus.
Pada palpasi didapatkan fundus uteri masih dapat teraba yang lebih besar dari yang diperkirakan.
Pada pemeriksaan dalam didapatkan uterus yang membesar, lunak, dan dari estium uteri keluar darah.
Pencegahan
Penemuan sedini mungkin dengan melakukan pemeriksaan kelengkapan plasenta setelah dilahirkan apakah ada bagian plasenta yang tertinggal.
Penatalaksanaan
Perawatan perdarahan postpartum sekunder dapat dibagi menjadi 3 kategori :
1.    Perdarahan sedikit
Tirah baring di rumah di bantu pemberian obat-obat oral golongan uterotonika. Bila dicurigai ada infeksi dapat diberi antibiotika.
2.    Perdarahan sedang
Diberikan oksitosin intravena ( 20 unit dalam 500 cc RL). Bila dengan pengobatan ini perdarahan dapat dihentikan dan tidak didapatkan bukti adanya sisa plasenta yang tertinggal, tidak perlu dilakukan kuret. Apabila didapatkan gejala-gejala infeksi dapat diberi antibiotika parenteral.
3.    Perdarahan banyak
Pertama-tama dipasang cairan intravena dan diberi transfusi darah. Dianjurkan untuk melakukan kuret apabila perdarahan masih berlangsung terus setelah pemberian oksitosin atau bila terdapat bukti adanya sisa plasenta yang tertinggal.
Sewaktu suatu bagian dari plasenta satu atau lebih lobus tertinggal, maka uterus tidak dapat berkonsentrasi secara efektif. Eksplorasi manual uterus menggunakan teknik yang serupa dengan teknik yang digunakan untuk mengeluarkan plasenta yang tidak keluar yaitu plasenta manual.
  1. Kaji ulang indikasi
  2. Kaji ulang tindakan medis
  3. Kaji ulang prinsip dasar perawatan dan pasang infus.
  4. Berikan sedativa dan analgetika (misalnya, petidin dan diazepam intravena jangan dicampur dalam semprit yang sama) atau kelamin.
  5. Beri antibiotika dosis tunggal (profilaksis) :
•    Ampisilin 2 intravena ditambah metronidazol 500 mg intravena.
•    Atau sefazolin 1 gr intravena ditambah metronidazol 500 mg intravena.
  • Pasang sarung tangan DTT
  • Masukkan tangan secara obstetrik masuk ke dalam kavum uteri, sementara itu tangan yang di sebelah lagi menahan fundus uteri, sekaligus untuk mencegah inversio uteri.
  • Dengan bagian lateral jari-jari tangan dicari bagian plasenta yang tertinggal.
  • Buka tangan obstetrik menjadi seperti memberi salam, jari-jari dirapatkan.
  • Temukan implantasi plasenta, temukan sisa plasenta.
  • Gerakkan tangan kanan ke kiri dan kanan sambil bergeser ke kranial sehingga bagian plasenta dapat dilepaskan.
  • Pegang bagian plasenta dan keluarkan tangan bersama bagian plasenta tersebut.
  • Pindahkan tangan luar ke suprasimpisi untuk menahan uterus saat bagian plasenta dikeluarkan.
  • Eksplorasi untuk memastikan tidak ada bagian plasenta yang masih melekat.
  • Beri oksitosin 10 IU dalam 500 ml cairan IV (garam fisiologis / RL) 60 tetes/menit dan masase uterus untuk merangsang kontraksi.
  • Jika masih berdarah banyak, beri ergometrin 0,2 mg IM atau prostaglandin.
  • Pantau kesadaran, tensi, nadi, pernapasan setiap 30 menit selama 6 jam.
  • Tentukan tinggi fundus dan pastikan kontraksi tetap baik.
  • Teruskan infus dan berikan transfusi darah bila perlu.
  • Lakukan pencatatan yang akurat.
?    Keluarkan sisa plasenta dengan tangan, cunam ovum, atau kuret besar. Jaringan yang melekat dengan kuat, dalam usaha untuk melepaskannya dapat mengakibatkan perdarahan berat.
?    Jika perdarahan berlanjut, lakukan uji pembekuan darah dengan menggunakan uji pembekuan darah sederhana. Kegagalan terbentuknya bekuan darah setelah 7 menit atau terbentuknya bekuan darah yang lunak yang mudah hancur menunjukkan adanya kemungkinan koagulopati.
?    Uji massa pembekuan sederhana.
  • Ambil 2 ml darah vena ke dalam tabung reaksi kaca yang bersih, kecil, dan kering.
  • Pegang tabung tersebut dalam genggaman anda untuk menjaganya tetap hangat (kurang lebih 37oC).
  • Setelah 4 menit, ketuk tabung secara perlahan untuk melihat apakah pembekuan sudah terbentuk, kemudian ketuk segiap menit sampai darah membeku dan tabung dapat di balik.
  • Kegagalan terbentuknya setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudah menunjukkan adanya koagulapathi.
Prioritas dalam penatalaksanaan perdarahan postpartum sekunder :
  1. Masukkan ibu ke rumah sakit sebagai salah satu kasus kedaruratan.
  2. Percepatan kontraksi dengan cara melakukan masase pada uterus jika uterus masih dapat teraba.
  3. Kaji kondisi maternal dan jika pada daerah yang terpencil, mulailah penatalaksanaan sebelum pemindahan, jika memungkinkan.
  4. Berikan oksitosin 10 IU IV atau engometrin 0,5 mg IV. Berikan secara IM jika IV tidak tersedia.
  5. Ambil darah untuk pemeriksaan hemoglobin, golongan darah, dan pencocokkan silang.
  6. Pasang infus gunakan normal saline atau natrium laktat terlebih dahulu. Bila ibu mengalami syok, alirkan dengan cepat (1 liter dalam 15 menit) sampai keadaan ibu stabil.
  7. Jika terjadi perdarahan yang berlebihan, tambahkan 40 IU oksitosin perliter pada infus dan alirkan sebanyak 40 tetes permenit (pemberi perawatan mungkin perlu memasang selang IV kedua).
  8. Pada kasus syok yang parah, gunakan plasma ekspander atau transfusi darah.
  9. Mulai berikan antibiotik berspektrum luas dengan dosis tinggi.
  10. Benzilpenisilin 5 juta IU IV kemudian 2 juta IU setiap enam jam + gentamisin 100 mg stat IM, kemudian 80 mg setiap 8 jam + metronidazol 400 atau 500 mg secara oral setiap 8 jam.
  11. Atau ampisilin 1 gram IV diikuti 500 mg secara IM setiap 6 jam + metronidazol 400 atau 500 mg secara oral setiap 8 jam.
  12. Atau benzilpenisilin 5 juta IU IV kemudian 2 juta IV setiap 6 jam + gentamisin 100 mg stat IM lalu 80 mg setiap 8 jam.
  13. Benzilpenisilin 5 juta IU IV kemudian 2 juta IU setiap 6 jam + kloramfenikol 500 mg secara IV setiap 6 jam.
  14. Jika mungkin, persiapkan pasien untuk pemeriksaan segera di bawah pengaruh anastesi.
Pantau kondisi dengan cermat, yang meliputi :
  • Suhu
  • Denyut nadi
  • Pernapasan
  • Tekanan darah
  • Darah yang hilang
  • Kondisi umum (kepucatan tingkat kesadaran)
  • Asupan cairan dan pengeluaran urin
  • Melakukan pencatatan yang akurat.
Tindakan Suportif
1.    Kunci keberhasilan terapi adalah transfusi darah. Jumlah darah yang diberikan harus cukup untuk menggantikan jumlah darah yang hilang. Biasanya diperlukan minimal 1 liter dan diberikan dengan cepat. Kalau respons pasien terhadap pemberian darah tidak memuaskan, keadaan berikut harus dipertimbangkan :
  • Adanya perdarahan yang terus merembes tanpa diketahui
  • Perdarahan ke dalam uterus yang atonia.
  • Vagina terisi darah tanpa diketahui.
  • Perdarahan di balik dan ke dalam tampon rahim.
  • Terbentuknya hematoma.
  • Perdarahan intraperitoneum seperti pada ruptura.
  • Afibrinogenemia atau hipofibrinogenemia.
  • Shock bakteremia.
2.    Digunakan plasma expander sebelum darah tersedia.
3.    Jika tekanan darah turun, meja bersalin bagian kaki pasien ditinggikan.
4.    anesthesi umum harus dihentikan dan oksigen diberikan lewat masker.
5.    pasien diselimuti untuk memberikan rasa hangat.
6.    morphin diberikan lewat injeksi hipodermik.
7.    jika terdapat afibrinogenemia, fibrinogen diberikan secara intravena, disuntikkan 2 – 6 gram. Karena adanya bahaya serum hepatitis sesudah penggunaan fibrinogen, pasien juga diberi gamma globin.
Perdarahan yang tidak berasal dari uterus.
Pada beberapa kasus, asal perdarahan ini adalah serviks, vagina atau vulva. Infeksi setempat mengakibatkan longgarnya atau lepasnya jahitan serta pelarutan thrombus dengan perdarahan pada tempat episotomi atau laserasi. Jumlah darah yang hilang tergantung pada ukuran pembuluh darah. Terapi mencakup pembersihan debris (debridement = tindakan membersihkan luka dengan mengangkat benda-benda asing dan jaringan mati dari luka atau sekitarnya) yang terinfeksi, penjahitan tempat-tempat berdarah. Transfusi darah diberikan kalau perlu.
B.    Sepsis Puerpuralis (Infeksi Nifas)
Istilah infeksi nifas mencakup semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman-kuman ke dalam alat-alat genital pada waktu persalinan dan nifas.
Pencegahan
Selama kehamilan
Oleh karena anemia merupakan predisposisi untuk infeksi nifas, harus diusahakan memperbaikinya. Keadaan gizi juga merupakan faktor penting; karenanya, diet yang baik harus diperhatikan.
Koitus pada hamil tua sebaiknya dilarang karena dapat mengakibatkan pecahnya ketuban dan terjadinya infeksi.
Selama persalinan
Usaha-usaha pencegahan terdiri dari atas membatasi sebanyak mungkin masuknya kuman-kuman dalam jalan lahir, menjaga supaya persalinan tidak berlarut-larut, menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin, dan mencegah terjadinya perdarahan banyak. Demikian pula, semua petugas dalam kamar bersalin harus menutup hidung dan mulut dengan masker; yang menderita infeksi pernapasan tidak diperbolehkan masuk ke kamar bersalin; alat-alat, kain-kain yang dipakai dalam persalinan harus suci hama. Pemeriksaan dalam hanya boleh dilakukan jika perlu, indikasi serta kondisi untuk bedah kebidanan harus dipatuhi. Selanjutnya, terjadinya perdarahan harus dicegah sedapat mungkin dan transfusi darah harus diberikan menurut keperluan.
Selama nifas
Sesudah partus terdapat luka-luka di beberapa tempat pada jalan lahir. Pada hari-hari pertama postpartum harus dijaga agar luka-luka ini tidak dimasuki kuman-kuman dari luar. Oleh sebab itu, semua alat dan kain yang berhubungan dengan daerah genital harus suci hama.
Pengunjung-pengunjung dari luar hendaknya pada hari-hari pertama dibatasi sedapat mungkin.
Tiap penderita dengan tanda-tanda infeksi nifas jangan dirawat bersama dengan wanita-wanita dalam nifas yang sehat.
Pengobatan
Antibiotika memegang peranan yang sangat penting dalam pengobatan infeksi nifas. Sudah barang tentu jenis antibiotika yang paling baik ialah yang mempunyai khasiat yang nyata terhadap kuman-kuman yang menjadi penyebab infeksi nifas. Berhubung dengan itu, hendaknya setelah diputuskan untuk memberi antibiotika, sebelum terapi dimulai dilakukan pembiakan getah vagina serta serviks — jika perlu juga dari darah  dan kemudian dilakukan tes-tes kepekaan untuk menentukan terhadap antibiotika mana kuman-kuman yang bersangkutan peka. Karena pemeriksaan-pemeriksaan ini memerlukan waktu, maka pengobatan perlu dimulai tanpa menunggu hasilnya. Dalam hal mi dapat diberikan penicilin dalam dosis tinggi atau antibiotika dengan
spektrum luas (broad spectrum antibiotics), seperti ampicillin, dan lain-lain. Setelah hasil pembiakan serta tes-tes kepekaan diketahui, dapat dilakukan pengobatan yang paling sesuai. Kombinasi tetracyclin dan penicillin G dalam dosis tinggi iv sangat efektif terhadap infeksi nifas, sedangkan di Bagian Obstetri dan Ginekologi FKUI/ RSCM dipakai sulbenicillin atau garamicin atau kombinasi penicillin G dengan chloramphenicol dengan hasil cukup memuaskan.
Di samping pengobatan dengan antibiotika, tindakan-tindakan untuk memper-tinggi daya tahan badan tetap perlu dilakukan. Perwatan baik sangat penting, makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan hendaknya diberikan dengan cara yang cocok dengan keadaan penderita, dan bila perlu transfusi darah dilakukan.
Pada sellulitis pelvika dan pelvioperitonitis perlu diamat-amati dengan seksama apakah terjadi abses atau tidak. Jika terjadi abses, abses harus dibuka dengan menjaga supaya nanah tidak masuk ke dalam rongga peritoneum dan pembuluh darah yang agak besar tidak sampai dilukai.

C.    Asfiksia Neonatorum
Asfiksia neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan atau segera setelah bayi lahir. Akibat akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna.
Tujuan melakukan tindakan terhadap bayi asfiksia adalah melancarkan kelangsungan pernapasan bayi yang sebagian besar terjadi pada waktu persalinan. Terdapat beberapa faktor yang dapat menimbulkan gawat janin (asfiksia).
1.    Gangguan sirkulasi menuju janin
a.    Gangguan aliran pada tali pusat
  • Lilitan tali pusat
  • Simpul tali pusat
  • Tekanan pada tali pusat
  • Ketuban telah pecah
  • Kehamilan lewat waktu
b.    Pengaruh obat
  • Karena narkosa saat persalinan
2.    Faktor ibu
  • Gangguan his : tetania uteri-hipertoni
  • Turunnya tekanan darah dapat mendadak : perdarahan pada plasenta previa dan solusi plasenta.
  • Vaso konstriksi arterial : hipertensi pada hamil dan gestosis pre-eklamsia-eklamsia.
  • Gangguan pertukaran nutrisi / O2 samsio plasenta.
?    Penilaian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir
Aspek yang sangat penting dari resusitasi bayi baru lahir adalah menilai bayi, menentukan tindakan yang akan dilakukan dan akhirnya melaksanakan tindakan. misalnya pada saat anda melakukan rangsanqan taktil anda sekaligus menilai pernafasan bayi. Atas dasar penilaian ini anda akan menentukan langkah-langkah selanjutnya.
Penilaian untuk melakukan resusitasi semata-mata ditemukan oleh 3 tanda yang penting, yaitu pernafasan, denyut jantung dan warna.
?    Penanganan Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir (Resusitasi Pada Bayi Baru Lahir)
Untuk mendapatkan hasil yang sempurna dalam resusitasi, prinsip dasar yang perlu diingat adalah :
  • Menciptakan lingkungan yang baik bagi bayi dan mengusahakan tetap bebasnya jalan nafas.
  • Memberikan bantuan pernafasan secara aktif kepada bayi dengan usaha pernafasan buatan.
  • Memperbaiki asidosis yang terjadi
  • Menjaga agar peredaran darah tetap baik.
URUTAN PELAKSAMAAN RESUSITASI
?    Mencegah kehilangan panas dan mengeringkan tubuh bayi
  • Alat pemancar panas telah diaktifkan sebelumnya sehingga tempat meletakkan bayi hangat, bayi diletakkan dibawah alat pemancar panas, tubuh dan kepala bayi dikeringkan dengan menggunakan handuk atau selimut hangat (Apabila diperlukan penghisapan mekoneum, dianjurkan untuk menunda pengeringan tubuh yaitu setelah mekoneum dihisap dari trakea.
  • Untuk bayi sangat kecil (berat badan < 1.500 gr) atau apabila suhu ruangan sangat dingin dianjurkan menutup bayi dengan sehelai plastik tipis yang tembus pandang.
?    Meletakkan bayi dalam posisi yang benar
  • Bayi diletakkan terlentang dialas yang datar, kepala lurus. dan leher  sedikit tengadah (ekstensi).
  • Untuk mempertahankan agar leher tetap tengadah, letakkan handuk atau selimut yang digulung dibawah  bahu bayi.
?    Membersihkan jalan nafas
  • Kepala bayi dimiringkan agar cairan berkumpul di mulut dan tidak difaring bagian belakang.
  • Mulut dibersihkan terlebih dahulu dengan maksud :
  • Cairan tidak teraspirasi.
  • Hisapan pada hidung akan menimbulkan pernafasan megap-megap.
?    Menilai Bayi
Penilaian bayi dilakukan berdasarkan 3 gejala yang sangat penting bagi kelanjutan hidup bayi :
  • Usaha pernafasan
  • Frekuensi denyut jantung
  • Warna kulit
?    Menilai Usaha Bernafas
  • Apabila bayi bernafas secara spontan dan memadai lanjutkan dengan menilai frekeunsi denyut jantung.
  • Apabila bayi mengalami apnu atau sukar bernafas dilakukan rangsangan taksil dengan menepuk-nepuk atau menyentil telapak kaki bayi atau menggosok punggungnya sambil memberikan oksigen.
?    Menilai Frekuensi Denyut Jantung Bayi
  • Segera setelah menilai usaha bernafas dan melakukan tindakan yang diperlukan, segera dilakukan penilaian frekuensi denyut jantung bayi.
  • Apabila frekuensi denyut jantung kurang dari 10o menit dan bayi bernafas spontan. dilanjutkan dengan menilai warna kulit.
  • Apabila frekuensi denyut jantung kurang dari 100 menit walaupun bayi bernafas spontan. menjadi indikasi untuk dilakukan VTP.
  • Apabila detak jantung tidak dapat dideteksi, epinefrin harus segera diberikan dan pada saat yang sama VTP dan kompresi dada dimulai.
?    Menilai warna kulit
  • Penilaian warna kulit dilakukan apabila bayi bernafas spontan dan frekuensi denyut jantung bayi lebih dari 100 menit.
  • Apabila terdapat sianosis sentral, oksigen tetap diberikan
Apabila terdapat sianosis perifer, oksigen tidak perlu diberikan. Sianosis perifer disebabkan oleh karena peredaran darah yang masih lamban, antara lain karena suhu ruang bersalin yang dingin, bukan akibat hipoksemia.

D.    Syok Obstetri
Istilah syok digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan klinis yang akut pada seorang penderita, yang bersumber pada berkurangnya perfusi jaringan dengan darah, akibat gangguan pada sirkulasi mikro. Kekurangan oksigen dalam keadaan syok ini akan diimbangi dan dikompensasi oleh metabolisme anaerob, namun bila kekurangan perfusi tidak dapat diperbaiki, lama kelamaan metabolisme anaerob dengan glukosa akan menimbulkan  timbunan asidum laktikum dan asidum piruvikum, sehingga terjadi asidosis metabolik, yg mengganggu kehidupan sel-sel. Dengan demikian, hipoksia jaringan akibat kekurangan perfusi yg berlangsung terlalu lama dan progresif akan merusak sel-sel dan pada akhirnya menyebabkan kematiannya.
Dalam kehamilan fisiologik terjadi perubahan-perubahan hemodinamik yang memberi perlindungan atau justru memberi pradisposisi terhadap timbulnya syok, seperti antara lain peningkatan curah jantung dan perubahan mekanisme pembekuan darah. Ada keadaan-keadaan patologik waktu kehamilan atau persalinan yang memberi pradisposisi terhadap timbulnya syok, seperti anemi, gangguan gizi, partus lama disertai dehidrasi dan asidosis dan sebagainya. Syok pada waktu kehamilan mengakibatkan syok pula pada janin yang berada dalam   kandungan. Peristiwa-peristiwa yang dalam  praktek kebidanan dapat  menimbulkan  syok adalah  : 1) perdarahan; 2) infeksi berat ; 3) solusio plasenta; 4) perlukaan dalam  persalinan; 5) inversio uteri; 6) emboli air ketuban; gabungan dua atau lebih faktor tersebut di atas. 7) selain peristiwa-peristiwa tersebut di atas, pada kalanya wanita hamil lanjut menunjukkan hipotensi sewaktu tidur terlentang, peristiwa yang dinamakan supine hypotensive syndrome.
Penanganan Syok
Mengingat bahwa syok, peristiwa-peristiwa yang dapat  menimbulkan syok harus ditanggulangi sebaik-baiknya. Dalam  praktek kebidanan pemberian cairan intravena melalui infus pada waktu persalinan sebagai tindakan pencegahan untuk menghindari hipovolumia besar manfaatnya, terutama pada penderita yang menunjukkan pradisposisi terhadap syok. Pemberian pertolongan kepada penderita dengan syok sebaiknya diikuti dengan suatu rencana tindakan yang urutannya seperti berikut. Pertama-tama kelancaran ventilasi harus dijamin. Untuk ini perlu ditentukan apakah jalan napas bebas, jika tidak, hal itu perlu diusahakan dengan segera. Kemudian karena pada syok, dengan tindakan yang bersifat medis maupun pembedahan. Pada syok yang tidak terang sebab-sebabnya sebaiknya dilakukan pemeriksaan vaginal. Selama perawatan perlu terus menerus diadakan pengawasan keadaan penderita. Secara berkala diadakan pengukuran nadi, tekanan darah, suhu, pernapasan, diuresis dan bila perlu tekanan vena pusat (CVP), dan pemeriksaan-pemeriksaan labortorium. Hasil penilaian pengukuran-pengukuran ini menentukan tindakan selanjutnya.
Penanganan Syok Hemoragik
Pada syok hemoragik tindakan yang esensial adalah  menghentikan perdarahan dan mengganti kehilangan darah. Setelah diketahui adanya syok hemoragik, penderita dibaringkan dalam  posisi Trendelenburg, yaitu dalam  posisi terlentang biasa dengan kaki sedikit tinggi (300). Dijaga jangan sampai penderita kedinginan badannya. Setelah kebebasan jalan napas terjamin, untuk meningkatkan oksigenasi dapat  diberi oksigen 100% kira-kira 5 liter/menit melalui jalan napas. Sampai diperoleh persediaan darah buat tran
E.    Distosia Bahu
Distosia bahu yang sesungguhnya mempunyai pengertian sebagai berikut : Presentasi kapala ; kepala telah lahir tetapi bahu tidak dapat dilahirkan dengan cara-cara biasa.
Tidak ada penyebab lain terjadinya kesulitan tersebut. Insidensi umumnya < 1 % (0,15 – 0,12). Pada bayi-bayi dengan berat lahir > 4000 gram insidensinya 1,6 %.
Distosia bahu ada hubungannya dengan obesitas ibu, pertambahan berat badan yang berlebihan, bayi berukuran besar, riwayat saudara kandung yang besar, dan diabetes pada ibu.

Penanganan Distosia Bahu
Meskipun komplikasi ini tidak dapat di cegah, hasilnya dapat diperbaiki dengan mengenal keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan distosia bahu dan dengan mempraktekkan keahlian perawatan kebidanan pada pasien-pasien ini.
Usaha-usaha tambahan :
  1. Diberikan anestesi, atau kalau sudah diberikan diperdalam lagi sebab relaksasi otot yang sempurna sangat membantu. Waktu sangat berharga, dan pada waktu dilakukan pemberian anestesi operator harus bertindak.
  2. Jalan nafas dibersihkan dari lendir dan debris.
  3. Dilakukan pemeriksaan vaginal terdapat janin dan panggul untuk mengesampingkan komplikasi-komplikasi lain yang menghalangi turunnya badan : tali pusat pendek, kembar yang terkunci atau menjadi satu, pembesaran abdomen atau thorax, dan cincin konstriksi uterus.
  4. Dilakukan episiotomi, lebih baik mediolateral dan lebar, untuk memberikan jalan yang lebih luas dan untuk mencegah robekan ke rektum.
Pertolongan dasar pada distosia bahu
Dilakukan tarikan ke belakang perlahan-lahan pada kepala yang sudah lahir, tanpa rotasi yang dipaksakan dan tanpa penekukan yang berlebihan. Pada saat yang bersamaan penderita di minta mengejan kalau ia sadar ; kalau tidak maka dilakukan dorongan fundus uteri oleh asisten bersamaan waktunya dengan tarikan pada kepala. Tarikan harus halus dan kontinyu dan dihindari hentakan yang mendadak. Lamanya tindakan ini umumnya tidak akan melebihi 4 atau 5 detik. Jika penyebab kesulitan hanyalah karena tahanan bahu yang besar pada diameter obliqua atau transersa maka tindakan sederhana ini hampir selalu akan berhasil. Satu atau dua kali mencoba sudah cukup. Bila tidak berhasil, cara ini harus ditinggalkan.
Tindakan operatif dalam penanganan distosia bahu :
Pengeluaran bahu depan
  1. Tangan dimasukkan dalam-dalam ke vagina di belakang bahu depan.
  2. Pada kontraksi berikutnya sumbu bahu di putar ke arah diameter obligua panggul.
  3. Dilakukan tarikan kuat pada kepala, membelokkannya ke arah lantai.
  4. Dikerjakan dorongan suprapublik, ini umumnya akan berhasil membawa bahu depan ke dalam panggul dan melewatinya.
  5. Kadang-kadang penarikan dapat dibantu dengan mengaitkan jari telunjuk pada ketiak anak.
Ekstraksi bahu dan lengan belakang
  1. Tangan dimasukkan dalam-dalam ke vagina di belakang bahu belakang.
  2. Lengan di cekam dan di bawa melalui sebelah depan abdomen anak. Kemudian tangan ditarik dan dikeluarkan bersama-sama lengan anak.
  3. Dua jari tangan kiri ditempatkan pada bagian depan bahu belakang. Dilakukan penekanan pada bahu sehingga ia berputar melawan arah jarum jam, bagian belakang mendahului ia diputar 180o sampai posisi jam 12. Dengan ini bahu belakang dilahirkan di bawah arkus pubis. Kepala berputar dari LOT menjadi ROT.
  4. Bahu belakang telah dilahirkan, dan bahu depan sekarang ada di belakang.
  5. Dilakukan lagi dorongan pada bokong anak ke arah bawah.
  6. Pada waktu yang bersamaan dua jari ditempatkan pada bagian depan bahu yang sekarang menjadi bahu belakang. Dengan tekanan pada bahu, ia diputar sesuai arah jarum jam dengan bagian, belakang mendahului. Ia diputar 180o sampai posisi jam 12 dan bahu belakang juga dilahirkan. Kepala berputar dari ROT menjadi LOT.

BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Penatalaksanaan kedaruratan obstetrik ini yang meliputi :
  • Perdarahan post partam sekunder
  • Sepsis puerperium
  • Asphyksia neonarorum
  • Syok Obstetri
  • Distosia bahu
Dalam hal ini harus ditangani dengan tepat waktu dan tepat prosedur yang mana menyangkut keselamatan dua nyawa yaitu ibu anak, selain itu juga dalam menangani hal-hal fatologis ini dengan berkolaborasi yang nantinya akan menciptakan suatu keselamatan yang maksimal.
B.    Saran
Untuk ibu-ibu hamil diharapkan untuk melaksanakan pemeriksaan kehamilan dengan teratur dan untuk tenaga medis dan sarana kesehatan agar berupaya melaksanakan tugas yang sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.


DAFTAR PUSTAKA
Prawirohardjo, Sarwono 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.
Prawirohardjo, Sarwono 1999. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Binsa Pustaka.
Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Bandung. 1984. Obstetri Parologi. Bandung : Elstar Offset.
Manuaba, Ida Bagus Gede. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : Buku Kedokteran.
Hakini, Muhammad.2003. Ilmu Kebidanan Fisiologi & Patologi persalinan. Yogyakarta : Yayasan Essentia Medica.
Laksaman, Hendra.T.2002. Kamus Kedokteran. Jakarta : Djambatan.

SOURCE : http://www.keren.web.id/pengertian-pendarahan-postpartum-sekunder.html

0 komentar:

Poskan Komentar

Resources

Search

Memuat...