Tampilkan postingan dengan label artikel ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel ilmiah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Februari 2013

Bukti kebesaran Allah pada tulang ekor



http://s0.arrahmah.net/images/stories/2012/06/tulang-ekor.jpg

“Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat” ( HR. Al Bukhari , Nomor : 4935 )
Belasan abad lamanya, hadits tersebut menjadi hal yang gaib yang tidak mungkin bisa dijelaskan dengan logika. Seiring berjalannya waktu beberapa penelitian ilmiah mampu menjelaskan kebenaran hadits tersebut dikemudian hari.

Kebenaran Islam tentang jantung manusia yang ditulis oleh al-Qur'an



Paper itu ditulis oleh Marios Loukas, Yousuf Saad, Shane Tubbs dan Mohamadali Shoja. Penulis pertama, Marios Loukas adalah seorang Profesor di St. George University dengan bidang riset seputar jantung, teknik dan anatomi pembedahan, arteriogenesis hingga pendidikan medis.

Kamis, 26 Juli 2012

FAKTA ILMIAH BABI HARAM


"Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Akan tetapi, barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang isi tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha pengampun, Maha penyayang" (QS. Al-Baqarah [2] : 173).





Jumat, 20 Mei 2011

DOKTER MUSLIM

Tahukah anda bahwa banyak Muslim yang mengukir prestasi dalam bidang kedokteran? Berikut adalah 10 diantaranya.
· Ibnu Masawayh
Dokter Spesialis Diet.
Abu Zakariyya Yuhanna Ibnu Masawayh, atau lebih popular disebut Ibnu Masawayh adalah dokter yang termasyhur pada abad ke-3 H. Kariernya sebagai dokter dimulai sejak pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid hingga Al-Mutawakkil. Buku terjemahannya dari karya-karya Yunani menjadi sumbangan besar bagi ilmu pengetahuan pada masa itu.

· Zakariya Ar-Razi
Muslim Pertama yang menulis buku medis.
Zakariyya Ar-Razi atau biasa disingkat Ar-Razi adalah dokter muslim pertama yang menulis tentang medis. Ia juga ahli kimia yang belajar dan bekerja di Baghdad, Irak. Ar-Razi pun ilmuwan pertama yang mengklasifikasikan berbagai macam zat kimia ke dalam tiga bagian : mineral-mineral, hewan-

Senin, 02 Mei 2011

MADU dan diabetes....

Penggunaan madu untuk pengobatan penyakit kronik,
Bukti Al-Qur’an sepanjang masa

Muslim Thaher


LATAR BELAKANG :

Sesungguhnya dalam penciptaan Bumi dan segala isinya terdapat pelajaran bagi orang yang berfikir. Begitulah hukum Allah berlaku terhadap semua elemen abstrak makhluk-Nya. Tak terkecuali dengan manusia dan kompleks di dalamnya. Kompleks yang mencakup posisi penyakit dan pengobatannya. Maka perhatikanlah :

“Dari perut lebah itu keluar madu yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang yang berpikir” (An-Nahl 69)

Dengan meningkatnya status sosial dan ekonomi, pelayanan kesehatan masyarakat, perubahan gaya hidup, bertambahnya umur, maka terdapat kecenderungan meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular salah satunya adalah Diabetes mellitus.

Menurut survei yang di lakukan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO), jumlah penderita Diabetes melitus di Indonesia pada tahun 2000 terdapat 8,4 juta orang, jumlah tersebut menempati urutan ke-4 terbesar di dunia, sedangkan urutan di atasnya adalah India (31,7 juta), Cina (20,8 juta), dan Amerika Serikat (17,7 juta). Diperkirakan jumlah penderita Diabetes mellitus akan meningkat pada tahun 2030 yaitu India (79,4 juta), Cina (42,3 juta), Amerika Serikat (30,3 juta) dan Indonesia (21,3 juta). Jumlah yang sangat menakjubkan dengan berbagai komplikasi yang ditimbulkannya seperti ulkus diabetikum yang sering sekali di akhiri amputasi.

Akhir-akhir ini, peneliti mulai fokus kembali untuk pengobatan herbal dengan kualitas baik, salah satunya penggunaan madu sebagai zat yang poten untuk antibiotik (anti bakteri) dan antiinflamasi (antiradang) yang sebenarnya potensial untuk pengobatan. Namun sebagian besar dari 2 juta orang Amerika dengan ulkus kaki kronis sekali pun tidak sadar akan kekuatan kuratif madu, kata Peter Molan, seorang peneliti di University of Waikato di New Zealand yang telah mempelajari sifat madu selama beberapa dekade.

Prinsip penggunaan madu untuk pengobatan dalam dunia kedokteran memang sangat sesuai, seperti yang tercantum dalam dalil berikut :

"Ambillah / pergunakanlah olehmu sekalian akan dua obat penyembuh yaitu madu dan al-Qur'an." (Hadis riwayat Ibnu Majah).

Dari Ibnu Abbas r.a. Rasulullah bersabda : “Kesembuhan (obat) itu ada pada tiga hal: dengan minum madu, pisau hijamah (bekam), dan dengan besi panas. Dan aku melarang ummatku dengan besi panas.” (Hadist Bukhari)






PEMBAHASAN :

Diabetes mellitus merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya kekurangan insulin secara relatif maupun absolut. Defisiensi insulin dapat terjadi melalui 3 jalan, yaitu :
a. Rusaknya sel-sel β pankreas.
b. Desensitasi atau penurunan reseptor glukosa pada kelenjar pankreas.
c. Desensitas/kerusakan reseptor insulin (down regulation) di jaringan perifer
Sedangkan insulin dibutuhkan untuk memasukkan glukosa darah ke dalam sel. Dengan keadaan ini maka kadar glukosa darah orang diabetes sangat tinggi.

Dalam The Journal of Medical Food tahun 2004, Waili NS melaporkan penelitian tentang efek madu terhadap glukosa plasma, C-reactive protein (CRP), dan lipid darah pada orang yang sehat, pasien diabetes, dan orang yang kelebihan lipid.

Penelitian oleh Waili dan kawan-kawan tersebut menunjukkan beberapa hasil. Pertama, pada orang sehat, ternyata gula biasa (dekstose) meningkatkan kadar glukosa plasma 52% pada satu jam pertama dan 3% pada dua jam, sedangkan madu asli meningkatkan kadar glukosa plasma 14% pada satu jam pertama dan 10% pada dua jam. Dengan demikian madu hanya meningkatkan sedikit kadar gula darah dibandingkan gula lainnya. Kedua, gula biasa dan madu buatan juga meningkatkan kadar trigliserida, sedangkan madu asli menurunkan trigliserida dan meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL). Ketiga, madu yang dikonsumsi selama 25 hari ternyata menurunkan kolesterol total dan kolesterol jahat (Low Density Lipoprotein/LDL), serta meningkatkan kolesterol baik (High Density Lipoprotein/HDL).

Pada pasien diabetes, madu asli dapat menurunkan kolesterol total, LDL dan CRP. Madu dapat dijadikan alternatif pemanis karena selain lebih baik dari sisi metabolisme, terlihat bahwa madu asli dapat mengurangi kadar glukosa darah dan mengurangi risiko penyakit jantung pada pasien diabetes, sehingga menggantikan pemanis dengan madu mentah (raw honey) memberikan banyak keuntungan.
Madu mampu mengontrol kadar gula darah dan lemak, melenturkan pembuluh darah, memperbaiki sirkulasi hingga mencegah komplikasi diabetes. Madu kaya dengan peptide dan karbohidrat kompleks yang membutuhkan proses enzimatik agar dapat dibakar sebagai energi. Ini membuat madu menjadi indeks glikemik rendah hingga tidak memberatkan kerja insulin. Namun, beberapa madu ternyata memiliki indeks glikemik yang cukup besar sehingga perlu diperhatikan jenis madu apa yang paling cocok untuk diabetes dan gangguan kolesterol. Dan salah satu yang cocok untk dikonsumsi adalah madu propolis dan manuka.

Peneliti, Shona Blair dari University of Sydney telah menemukan bahwa, bila madu diencerkan diterapkan pada luka lembab, menghasilkan peroksida hidrogen, agen anti-bakteri yang baik. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa madu sangat kuat terhadap bakteri yang sering resisten Staphylococcus aureus.

Maka sungguh Al-Qur’an merupakan ensiklopedi dunia terlengkap. Ilmu pengetahuan membuktikan semua kebenaran dalam Al-Qur’an. Tidaklah mungkin terdapat kebohongan dalam kitab suci Al-Qur’an. Maka sesungguhnya nikmat mana lagi yang di dustakan. Allah telah mengajarkan semua ilmu pengetahuan yang tak akan pernah bisa terbantahkan dalam Al-Qur’an. Karya ini diharapkan dapat membuka pemahaman bersama melalui manajemen cerdas Al-Qur’an. Mari buka wawasan dengan belajar Al-Qur’an dan ilmu alam. Akhirat di hati dunia di genggaman.

Rabu, 30 Maret 2011

Vitamin D and Prevention of Cancer

Perspective

Vitamin D and Prevention of Cancer — Ready for Prime Time?

JoAnn E. Manson, M.D., Dr.P.H., Susan T. Mayne, Ph.D., and Steven K. Clinton, M.D., Ph.D.
March 23, 2011 (10.1056/NEJMp1102022) 


Given that the potential role of vitamin D in cancer prevention has been widely touted, many people were surprised that cancer-related considerations didn't figure prominently in the new Dietary Reference Intakes for vitamin D established by the Institute of Medicine (IOM).1 An IOM committee on which we served, charged with determining the population needs for vitamin D in North America, reviewed the evidence linking vitamin D with both skeletal and nonskeletal health outcomes. The committee concluded that vitamin D plays an important role in bone health and that the evidence provides a sound basis for determining the population's needs. For outcomes beyond bone health, however, including cancer, cardiovascular disease, diabetes, and autoimmune disorders, the evidence was found to be inconsistent and inconclusive as to causality. Based on vitamin D's importance to bone health, the recommended dietary allowances (RDAs) are 600 IU per day for persons 1 to 70 years of age and 800 IU per day for persons over 70 — intakes corresponding to a serum 25-hydroxyvitamin D level of at least 20 ng per milliliter (50 nmol per liter). Because of wide variation in skin synthesis of vitamin D and the known risks of skin cancer, we derived the RDAs under the assumption that sun exposure would be minimal. The committee also concluded that the prevalence of vitamin D inadequacy in North America has been overestimated. Most North Americans have serum 25-hydroxyvitamin D concentrations above 20 ng per milliliter, which is adequate for bone health in at least 97.5% of the population.1 The committee's comprehensive review of the evidence regarding vitamin D's role in preventing cancer, however, revealed that the research is inconsistent and doesn't establish a cause–effect relationship. Other recent reviews have reached similar conclusions.2,3 No large-scale randomized clinical trial of vitamin D has been completed with cancer as the primary prespecified outcome. Most evidence is derived from laboratory studies, ecologic correlations, and observational investigations of serum 25-hydroxyvitamin D levels in association with cancer outcomes. Although this serum measure is a useful marker of current vitamin D exposure, associational studies have important limitations. Specifically, low serum 25-hydroxyvitamin D levels are also linked with confounding factors related to higher cancer risk, including obesity (vitamin D becomes sequestered in adipose tissue), lack of physical activity (correlated with less time outdoors and less solar exposure), dark skin pigmentation (less skin synthesis of vitamin D in response to sun), and diet or supplementation practices. Reverse-causation bias may also occur if poor health reduces participation in outdoor activities and sun exposure or adversely affects diet, resulting in lower vitamin D levels. Association therefore cannot prove causation. Many micronutrients that seemed promising in observational studies (e.g., beta carotene, vitamins C and E, folic acid, and selenium) were not found to reduce cancer risk in randomized clinical trials, and some were found to cause harm at high doses.4 The theory that vitamin D can help prevent cancer is biologically plausible. The vitamin D receptor is expressed in most tissues. Studies in cell culture and experimental models suggest that calcitriol promotes cell differentiation, inhibits cancer-cell proliferation, and exhibits antiinflammatory, proapoptotic, and antiangiogenic properties. Such findings suggest, but don't prove, that vitamin D has a role in preventing the development of cancer or slowing its progression. Although several observational studies have linked low serum 25-hydroxyvitamin D levels with increased cancer incidence and mortality, randomized-trial evidence is sparse.1,2 Three vitamin D trials, including one trial comparing a combination of vitamin D with calcium to calcium alone, have assessed the occurrence of newly diagnosed cancers or cancer mortality as secondary outcomes, but the results were null (see tableVitamin D Supplementation and Total Cancer Incidence: Secondary Analyses from Randomized Clinical Trials.).1-3 Regarding breast-cancer risk specifically, three observational cohort studies of plasma 25-hydroxyvitamin D levels had inconsistent results: one small study found an inverse association, one large study found no association, and one large study found no overall trend but an inverse association in one subgroup.1,2 An inverse association observed in crude analyses in one study disappeared after adjustment for body-mass index and physical activity. Only one randomized trial (the Women's Health Initiative [WHI] trial) was large enough to assess breast cancer as a separate, although secondary, outcome; overall, it showed no significant effect of the intervention on breast-cancer incidence (hazard ratio, 0.96; 95% confidence interval [CI], 0.86 to 1.07) or related mortality (hazard ratio, 0.99). After stratifying the study population according to baseline vitamin D intake (diet plus supplements), the investigators found that women with the lowest baseline intakes had a reduced risk of breast cancer with the intervention (hazard ratio, 0.79; 95% CI, 0.65 to 0.97), whereas women with the highest baseline intakes (≥600 IU per day) actually had a significantly increased risk (hazard ratio, 1.34; 95% CI, 1.01 to 1.78; P for interaction=0.003). Observational studies of serum vitamin D levels and colorectal cancer generally support an inverse association.1-3 According to a meta-analysis of prospective data from five studies, subjects with a serum 25-hydroxyvitamin D level of 33 ng per milliliter or higher had about half the risk of colorectal cancer of those with levels of 12 ng per milliliter or lower. The European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition study recently reported a similarly strong inverse association. A prospective study from the Japan Public Health Center did not find an inverse relation between plasma 25-hydroxyvitamin D levels and the occurrence of colon cancer, although an inverse association with rectal cancer was apparent. Randomized trial evidence is limited. In a British trial comparing vitamin D3 with placebo, the intervention was not associated with a change in colorectal-cancer incidence (relative risk, 1.02; 95% CI, 0.60 to 1.74). Similarly, in the WHI trial, calcium plus vitamin D3 did not reduce the incidence of colorectal cancer (relative risk, 1.08; 95% CI, 0.86 to 1.34) or related mortality (relative risk, 0.82; 95% CI, 0.52 to 1.29). Although ecologic studies suggest that mortality due to prostate cancer is inversely related to sun exposure, observational analytic studies of serum 25-hydroxyvitamin D and prostate cancer haven't supported this conclusion.1-3 Eight of 12 nested case–control studies showed no association between baseline serum 25-hydroxyvitamin D levels and prostate-cancer risk, and just 1 showed a significant inverse association; a more recent nested case–control analysis of data from the α-Tocopherol, β-Carotene Cancer Prevention Study showed no association. Moreover, a meta-analysis of 45 observational studies of dairy-product intake and prostate-cancer risk showed no significant association with dietary intake of vitamin D. No relevant randomized clinical trials were identified. The large-scale Cohort Consortium Vitamin D Pooling Project of Rarer Cancers showed no evidence linking higher serum 25-hydroxyvitamin D concentrations to reduced risk of less common cancers, including endometrial, esophageal, gastric, kidney, pancreatic, and ovarian cancers and non-Hodgkin's lymphoma5 (which together account for approximately half of all cancers worldwide). Moreover, the report provided evidence suggestive of a significantly increased risk of pancreatic cancer at high 25-hydroxyvitamin D levels (≥40 ng per milliliter).5 An increased risk of esophageal cancer at higher 25-hydroxyvitamin D levels has also been reported. Despite biologic plausibility and widespread enthusiasm, the IOM committee found that the evidence that vitamin D reduces cancer incidence and related mortality was inconsistent and inconclusive as to causality. New trials assessing moderate-to-high-dose vitamin D supplementation for cancer prevention are in progress and should provide additional information within 5 to 6 years. Although future research may demonstrate clear benefits of vitamin D related to cancer and other nonskeletal health outcomes, and possibly support higher intake requirements, the existing evidence falls short.
Disclosure forms provided by the authors are available with the full text of this article at NEJM.org. This article (10.1056/NEJMp1102022) was published on March 23, 2011, at NEJM.org.

Source Information

From the Department of Medicine, Brigham and Women's Hospital, Harvard Medical School, Boston (J.E.M.); the Department of Epidemiology and Public Health, Yale Schools of Public Health and Medicine, New Haven, CT (S.T.M.); the Division of Medical Oncology, Ohio State University, Columbus (S.K.C.); and the Institute of Medicine Committee on Dietary Reference Intakes for Vitamin D and Calcium (J.E.M., S.T.M., S.K.C.).

References

  1. Institute of Medicine. Dietary reference intakes for calcium and vitamin D. Washington, DC: National Academies Press, 2011.
  2. Chung M, Balk EM, Brendel M, et al. Vitamin D and calcium: a systematic review of health outcomes. Evidence report no. 183. Rockville, MD: Agency for Healthcare Research and Quality, 2009. (AHRQ publication no. 09-E015.)
  3. International Agency for Research on Cancer. Vitamin D and cancer — a report of the IARC working group on vitamin D. Lyon, France: World Health Organization Press, 2008.
  4. Byers T. Anticancer vitamins du jour -- the ABCED's so far. Am J Epidemiol 2010;172:1-3
    CrossRef | Web of Science | Medline
  5. Helzlsouer KJ. Overview of the Cohort Consortium Vitamin D Pooling Project of Rarer Cancers. Am J Epidemiol 2010;172:4-9
    CrossRef | Web of Science | Medline

Senin, 09 Agustus 2010

Music as a complementary therapy in medical treatment

Abstrak:
Musik bukan saja merupakan sumber suara yang menyenangkan melainkan juga sumber kesembuhan. Musik sebagai terapi telah berkembang, didukung oleh banyak penelitian oleh para ahli di bidang musik, pendidikan dan kedokteran. Dampak terapi musik dapat dilihat pada berbagai kasus, yang menunjukkan pengaruh positif musik terhadap perbaikan perilaku, emosi, dan fisik manusia. Ada beberapa alasan menggunakan musik sebagai terapi yaitu musik sebagai audioanalgesik, pemfokus perhatian, dan lain-lain. Pengaruh musik untuk menolong berbagai pasien non-infeksi seperti Alzheimer, autisme, kanker dan lain-lain, akan dijelaskan disertai studi kasus dan penelitian tentang berbagai penyakit ini. Namun demikian terdapat kontroversi seputar hasil penelitian musik, karena itu penelitian lebih lanjut perlu dilakukan agar dicapai kesepakatan yang dapat mengukuhkan musik sebagai bentuk terapi yang dapat diterima dalam dunia medis masa kini maupun mendatang. (Med J Indones 2002; 11: 250-7)

Abstract:
Music can act not only as a source of enjoyable sound that gives pleasant feeling, but also a source of healing. Music as a therapy has developed, supported by many researches conducted by experts in music, education and medicine. The impact of music therapy can be observed in many case studies, showing the positive effects of music to the betterment of human’s neuro-behavior, emotional and physical states. Some reasons to use music as a therapy are: toget audioanalgesic response, to focus attention, to reinforce learning, to enhance interpersonal relationships, and to promote mind-body health in the medical staff. The use of music to help patients with non-infectious diseases such as Alzheimer disease, autism, cancer, headache, heart disease and stroke are described along with experiments and case studies on these diseases. However controversies around music therapy occurred. Therefore, more experiments need to be taken in order to clear the controversies and to use music as a therapy in the present and future medical treatment. (Med J Indones 2002; 11: 250-7)


 http://www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=105387&lokasi=lokal

SUMBER :
UI - Artikel Jurnal Kedokteran UI
No. Panggil : MJIN-11-4-OctDec2002-250
Judul : Music as a complementary therapy in medical treatment
Pengarang : Samuel Halim
Penerbitan : Medical Journal of Indonesia, 11 (4) October December 2002: 250-257
ISBN/ISSN : /
Desk. Fisik :
Catatan Seri :
Catatan Umum :
Subjek : MUSIC THERAPY;
Lokasi :





Resources

Search