Tampilkan postingan dengan label PSIKOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PSIKOLOGI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Juli 2012

Gangguan Jiwa


Klasifikasi gangguan jiwa



Ø    Pengertian Psikosa

Merupakan sindrom atau pola perilaku, atau psikologik seseorang yang secara klinik cukup bermakna, dan secara khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan atau gangguan didalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia. Sebagai tambahan, disimpulkan bahwa disfungsi itu menyangkut segi perilaku, psikologik atau biologik, dan gangguan itu tidak semata-mata terletak didalam hubungan antara orang dengan masyarakat.

Minggu, 10 April 2011

PSIKOLOGI REMAJA

Remaja dan Permasalahannya

Sofia Retnowati

Fakultas psikologi UGM

Pengantar

            Masa remaja seringkali dihubungkan dengan mitos dan stereotip mengenai penyimpangan dan tidakwajaran. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya teori-teori perkembangan yang membahas ketidakselarasan, gangguan emosi dan gangguan perilaku sebagai akibat dari tekanan-tekanan yang dialami remaja karena perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya maupun akibat perubahan lingkungan.
            Sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri remaja, mereka juga dihadapkan pada tugas-tugas yang berbeda dari tugas pada masa kanak-kanak. Sebagaimana diketahui, dalam setiap fase perkembangan, termasuk pada masa remaja, individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi. Apabila tugas-tugas tersebut berhasil diselesaikan dengan baik, maka akan tercapai kepuasan, kebahagian dan penerimaan dari lingkungan. Keberhasilan individu memenuhi tugas-tugas itu juga akan menentukan keberhasilan individu memenuhi tugas-tugas perkembangan pada fase berikutnya.
            Hurlock (1973) memberi batasan masa remaja berdasarkan usia kronologis, yaitu antara 13 hingga 18 tahun. Menurut Thornburgh (1982), batasan usia tersebut adalah batasan tradisional, sedangkan alran kontemporer membatasi usia remaja antara 11 hingga 22 tahun.
            Perubahan sosial seperti adanya kecenderungan anak-anak pra-remaja untuk berperilaku sebagaimana yang ditunjukan remaja membuat penganut aliran kontemporer memasukan mereka  dalam kategori remaja. Adanya peningkatan kecenderungan para remaja untuk melanjutkan sekolah atau mengikuti pelatihan kerja (magang) setamat SLTA, membuat individu yang berusia 19 hingga 22 tahun juga dimasukan dalam golongan remaja, dengan pertimbangan bahwa pembentukan identitas diri remaja masih terus berlangsung sepanjang rentang usia tersebut.
           
Lebih lanjut Thornburgh membagi usia remaja menjadi tiga kelompok, yaitu:
a.       Remaja awal : antara 11 hingga 13 tahun
b.      Remaja pertengahan: antara 14 hingga 16 tahun
c.       Remaja akhir: antara 17 hingga 19 tahun.

Pada usia tersebut, tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:
1.   Mencapai hubungan yang baru dan lebih masak dengan teman sebaya baik sesama jenis maupun lawan jenis
2.      Mencapai peran sosial maskulin dan feminin
3.      Menerima keadaan fisik dan dapat mempergunakannya secara efektif
4.      Mencapai kemandirian secara emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
5.      Mencapai kepastian untuk mandiri secara ekonomi
6.      Memilih pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja
7.      Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan dan kehidupan keluarga
8.     Mengembangkan kemampuan dan konsep-konsep intelektual untuk tercapainya kompetensi sebagai warga negara
9.      Menginginkan dan mencapai perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan secara sosial
10.  Memperoleh rangkaian sistem nilai dan etika sebagai pedoman perilaku (Havighurst dalam Hurlock, 1973).

Tidak semua remaja dapat memenuhi tugas-tugas tersebut dengan baik. Menurut Hurlock (1973) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam memenuhi tugas-tugas tersebut, yaitu:
1.      Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial, tugas dan nilai-nilai.
2.      Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.
Elkind dan Postman (dalam Fuhrmann, 1990) menyebutkan tentang fenomena akhir abad duapuluh, yaitu berkembangnya kesamaan perlakuan dan harapan terhadap anak-anak dan orang dewasa. Anak-anak masa kini mengalami banjir stres yang datang dari perubahan sosial yang cepat dan membingungkan serta harapan masyarakat yang menginginkan mereka melakukan peran dewasa sebelum mereka masak secara psikologis untuk menghadapinya. Tekanan-tekanan tersebut menimbulkan akibat seperti kegagalan di sekolah, penyalahgunaan obat-obatan, depresi dan bunuh diri, keluhan-keluhan somatik dan kesedihan yang kronis.
Lebih lanjut dikatakan bahwa masyarakat pada era teknologi maju dewasa ini membutuhkan orang yang sangat kompeten dan trampil untuk mengelola teknologi tersebut. Ketidakmampuan remaja mengikuti perkembangan teknologi yang demikian cepat dapat membuat mereka merasa gagal, malu, kehilangan harga diri, dan mengalami gangguan emosional.
Bellak (dalam Fuhrmann, 1990) secara khusus membahas pengaruh tekanan media terhadap perkembangan remaja. Menurutnya, remaja masa kini dihadapkan pada lingkungan dimana segala sesuatu berubah sangat cepat. Mereka dibanjiri oleh informasi yang terlalu banyak dan terlalu cepat untuk diserap dan dimengerti. Semuanya terus bertumpuk hingga mencapai apa yang disebut information overload. Akibatnya timbul perasaan terasing, keputusasaan, absurditas, problem identitas dan masalah-masalah yang berhubungan dengan benturan budaya.
Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja yang disertai oleh berkembangnya kapasitas intelektual, stres dan harapan-harapan baru yang dialami remaja membuat mereka mudah mengalami gangguan baik berupa gangguan pikiran, perasaan maupun gangguan perilaku. Stres, kesedihan, kecemasan, kesepian, keraguan pada diri remaja membuat mereka mengambil resiko dengan melakukan kenakalan (Fuhrmann, 1990).
Uraian di atas memberikan gambaran betapa majemuknya masalah yang dialami remaja masa kini. Tekanan-tekanan sebagai akibat perkembangan fisiologis pada masa remaja, ditambah dengan tekanan akibat perubahan kondisi sosial budaya serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat seringkali mengakibatkan timbulnya masalah-masalah psikologis berupa gangguan penyesuaian diri atau ganguan perilaku. Beberapa bentuk gangguan perilaku ini dapat digolongkan dalam delinkuensi.
            Perkembangan pada remaja merupakan proses untuk mencapaikemasakan dalam berbagai aspek sampai tercapainya tingkat kedewasaan. Proses ini adalah sebuah proses yang memperlihatkan hubungan erat antara perkembangan aspek fisik dengan psikis pada remaja.
1.      Perkembangan fisik remaja
Menurut Imran (1998) masa remaja diawali dengan masa pubertas, yaitu masa terjadinya perubahan-perubahan fisik (meliputi penampilan fisik seperti bentuk tubuh dan proporsi tubuh) dan fungsi fisiologis (kematangan organ-organ seksual). Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas ini merupakan peristiwa yang paling penting, berlangsung cepat, drastis, tidak beraturan dan terjadi pada sisitem reproduksi. Hormon-hormon mulai diproduksi dan mempengaruhi organreproduksi untuk memulai siklus reproduksi serta mempengaruhi terjadinya perubahan tubuh. Perubahan tubuh ini disertai dengan perkembangan bertahap dari karakteristik seksual primer dan karakteristik seksual sekunder. Karakteristik seksual primer mencakup perkembangan organ-organ reproduksi, sedangkan karakteristik seksual sekunder mencakup perubahan dalam bentuk tubuh sesuai dengan jenis kelamin misalnya, pada remaja putri ditandai dengan menarche (menstruasi pertama), tumbuhnya rambut-rambut pubis, pembesaran buah dada, pinggul, sedangkan pada remaja putra mengalami pollutio (mimpi basah pertama), pembesaran suara, tumbuh rambut-rambut pubis, tumbuh rambut pada bagian tertentu seperti di dada, di kaki, kumis dan sebagainya.
Menurut Mussen dkk., (1979) sekitar dua tahun pertumbuhan berat dan tinggi badan mengikuti perkembangan kematangan seksual remaja. Anak remaja putri mulai mengalami pertumbuhan tubuh pada usia rata-rata 8-9 tahun, dan mengalami menarche rata-rata pada usia 12 tahun. Pada anak remaja putra mulai menunjukan perubahan tubuh pada usia sekitar 10-11 tahun, sedangkan perubahan suara terjadi pada usia 13 tahun (Katchadurian, 1989). Penyebab terjadi makin awalnya tanda-tanda pertumbuhan ini diperkirakan karena faktor gizi yang semakin baik, rangsangan dari lingkungan, iklim, dan faktor sosio-ekonomi (Sarwono, dalam JEN, 1998).
Pada masa pubertas, hormon-hormon yang mulai berfungsi selain menyebabkan perubahan fisik/tubuh juga mempengaruhi dorongan seks remaja. Menurut Bourgeois dan Wolfish (1994) remaja mulai merasakan dengan jelas meningkatnya dorongan seks dalam dirinya, misalnya muncul ketertarikan dengan orang lain dan keinginan untuk mendapatkan kepuasan seksual.
Selama masa remaja, perubahan tubuh ini akan semakin mencapai keseimbangan yang sifatnya individual. Di akhir masa remaja, ukuran tubuh remaja sudah mencapai bentuk akhirnya dan sistem reproduksi sudah mencapai kematangan secara fisiologis, sebelum akhirnya nanti mengalami penurunan fungsi pada saat awal masa lanjut usia (Myles dkk, 1993). Sebagai akibat proses kematangan sistem reproduksi ini, seorang remaja sudah dapat menjalankan fungsi prokreasinya, artinya sudah dapat mempunyai keturunan. Meskipun demikian, hal ini tidak berarti bahwa remaja sudah mampu bereproduksi dengan aman secara fisik. Menurut PKBI (1984) secara fisik, usia reproduksi sehat untuk wanita adalah antara 20 – 30 tahun. Faktor yang mempengaruhinya ada bermacam-macam . Misalnya, sebelum wanita berusia 20 tahun secar fisik kondisi organ reproduksi seperti rahim belum cukup siap untuk memelihara hasil pembuahan dan pengembangan janin. Selain itu, secara mental pada umur ini wanita belum cukup matang dan dewasa. Sampoerno dan Azwar (1987) menambahkan bahwa perawatan pra-natal pada calon ibu muda usia biasanya kurang baik karena rendahnya pengetahuan dan rasa malu untuk datang memeriksakan diri ke pusat pelayanan kesehatan.
2.      Perkembangan Psikis Remaja
Ketika memasuki masa pubertas, setiap anak telah mempunyai sistem kepribadian yang merupakan pembentukan dari perkembangan selama ini. Di luar sistem kepribadian anak seperti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi, pengaruh media massa, keluarga, sekolah, teman sebaya, budaya, agama, nilai dan norma masyarakat tidak dapat diabaikan dalam proses pembentukan kepribadian tersebut. Pada masa remaja, seringkali berbagai faktor penunjang ini dapat saling mendukung dan dapat saling berbenturan nilai.



Kutub Keluarga ( Rumah Tangga)
            Dalam berbagai penelitian yang telah dilakukan, dikemukakan bahwa anak/remaja yang dibesarkan dalam lingkungan sosial keluarga yang tidak baik/disharmoni keluarga, maka resiko anak untuk mengalami gangguan kepribadian menjadi berkepribadian antisosial dan berperilaku menyimpang lebih besar dibandingkan dengan anak/remaja yang dibesarkan dalam keluarga sehat/harmonis (sakinah).
            Kriteria keluarga yang tidak sehat tersebut menurut para ahli, antara lain:
a.       Keluarga tidak utuh (broken home by death, separation, divorce)
b.      Kesibukan orangtua, ketidakberadaan dan ketidakbersamaan orang tua dan anak di rumah
c.       Hubungan interpersonal antar anggota keluarga (ayah-ibu-anak) yang tidak baik (buruk)
d.      Substitusi ungkapan kasih sayang orangtua kepada anak, dalam bentuk materi daripada kejiwaan (psikologis).

Selain daripada kondisi keluarga tersebut di atas, berikut adalah rincian kondisi keluarga yang merupakan sumber stres pada anak dan remaja, yaitu:
a.       Hubungan buruk atau dingin antara ayah dan ibu
b.      Terdapatnya gangguan fisik atau mental dalam keluarga
c.       Cara pendidikan anak yang berbeda oleh kedua orangtua atau oleh kakek/nenek
d.      Sikap orangtua yang dingin dan acuh tak acuh terhadap anak
e.       Sikap orangtua yang kasar dan keras kepada anak
f.       Campur tangan atau perhatian yang berlebih dari orangtua terhadap anak
g.      Orang tua yang jarang di rumah atau terdapatnya isteri lain
h.      Sikap atau kontrol yang tidak konsisiten, kontrol yang tidak cukup
i.        Kurang stimuli kongnitif atau sosial
j.        Lain-lain, menjadi anak angkat, dirawat di rumah sakit, kehilangan orang tua, dan lain sebagainya.

Sebagaimana telah disebutkan di muka, maka anak/remaja yang dibesarkan dalam keluarga sebagaimana diuraikan di atas, maka resiko untuk berkepribadian anti soial dan berperilaku menyimpang lebih besar dibandingkan dengan anak/maja yang dibesarkan dalam keluarga yang sehat/harmonis (sakinah).

Kutub Sekolah
            Kondisi sekolah yang tidak baik dapat menganggu proses belajar mengajar anak didik, yang pada gilirannya dapat memberikan “peluang” pada anak didik untuk berperilaku menyimpang. Kondisi sekolah yang tidak baik tersebut, antara lain;
a.       Sarana dan prasarana sekolah yang tidak memadai
b.      Kuantitas dan kualitas tenaga guru yang tidak memadai
c.       Kualitas dan kuantitas tenaga non guru yang tidak memadai
d.      Kesejahteraan guru yang tidak memadai
e.       Kurikilum sekolah yang sering berganti-ganti, muatan agama/budi pekerti yang kurang
f.       Lokasi sekolah di daerah rawan, dan lain sebagainya.

Kutub Masyarakat (Kondisi Lingkungan Sosial)
            Faktor kondisi lingkungan sosial yang tidak sehat atau “rawan”, dapat merupakan faktor yang kondusif bagi anak/remaja untuk berperilaku menyimpang. Faktor kutub masyarakat ini dapat dibagi dalam 2 bagian, yaitu pertama, faktor kerawanan masyarakat dan kedua, faktor daerah rawan (gangguan kamtibmas). Kriteria dari kedua faktor tersebut, antara lain:
a.       Faktor Kerawanan Masyarakat (Lingkungan)
1)      Tempat-tempat hiburan yang buka hingga larut malambahkan sampai dini hari
2)      Peredaran alkohol, narkotika, obat-obatan terlarang lainnya
3)      Pengangguran
4)      Anak-anak putus sekolah/anak jalanan
5)      Wanita tuna susila (wts)
6)  Beredarnya bacaan, tontonan, TV, Majalah, dan lain-lain yang sifatnya pornografis dan kekerasan
7)      Perumahan kumuh dan padat
8)      Pencemaran lingkungan
9)      Tindak kekerasan dan kriminalitas
10)  Kesenjangan sosial

b.      Daerah Rawan (Gangguan Kantibmas)
1)      Penyalahgunaan alkohol, narkotika dan zat aditif lainnya
2)      Perkelahian perorangan atau berkelompok/massal
3)      Kebut-kebutan
4)      Pencurian, perampasan, penodongan, pengompasan, perampokan
5)      Perkosaan
6)      Pembunuhan
7)      Tindak kekerasan lainnya
8)      Pengrusakan
9)      Coret-coret dan lain sebagainya

Kondisi psikososial dan ketiga kutub diatas, merupakan faktor yang kondusif bagi terjadinya kenakalan remaja.
 

Sabtu, 26 Maret 2011

PSIKOLOGI ANAK - Konsep anak tentang kesehatan

LIFE CYCLE – PSIKOLOGI ANAK

KONSEP ANAK-ANAK TENTANG KESEHATAN DAN KESAKITAN
Pengetahuan mengenai konsep kesehatan dan kesakitan pertam-tama penting bagi anak sendiri, yaitu menerangkan kesehatan dan kesakitan kepada mereka. Seperti yang dikatakan Eiser (1988), hal ini terutama penting untuk pendidikan kesehatan umum, kesakitan yang akut,opname di rumah sakit, dan penyakit kronis.
  1. Menurut Eiser, semua anak perlu mengembangkan sikap-sikap positif terhadap perawatan diri sendiri dan perilaku kesehatan mereka saat itu, tetapi juga karena sikap-sikap ini berkaitan dengan keyakinan kesehatan positif pada kaum dewasa. Misalnya, diet lemak, tidak hanya berkaitan dengan kegemukan (obesity) semasa kanak-kanak, tetapi juga menambah resiko terkena penyakit-penyakit kardiovaskuler.
  2. Episode-episode kesakitan yang akut dan opname di rumah sakit dapat member stress bagi anak dan kadang-kadang menimbulkan akibat-akibat yang merugikan dalam kurun waktu lama. Diakui bahwa anak-anak berhak mendapat, dan beruntung dari keterangan tentang kesakitan dan prosedur-prosedur medis. Contohnya, anak yang telah mendapat informasi – sesuai dengan tingkat kognitif mereka – tentang apa yang akan terjadi di rumah sakit, biasanya kurang menderita.
  3. Anak-anak dengan penyakit kronis mempunyai persamaan bahwa tidak ada obat yang dapat diperoleh , dan bahwa penyakit-penyakit itu mempengaruhi anak selama paling singkat 3 bulan, seringkali selama hidup. Para orang tua dan anak biasanya didorong agar menjadi bertanggung jawab atas banyak segi perawatan medis. Hal ini mencakup pengobatan diri, perhatian padadiet dan latihan. Contohnya, parapenderita diabetes, perlu belajar bagaimana mengetes tingkat glukosa darah.menyuntikkan insulin diri sendiri, mengatur dosis bergantung pada kondisi kesehatan, makan makanan yang cocok, dan melakukan perawatan ritun yang khusus untukmencegah komplikasi-komplikasi.
  4. Sedikit pengetahuan perlu agar anak dapat memikul tingkat tanggung jawab sendiri (Eiser,1990).
  5. Burbach dan Peterson (1986) menambahkan argument lainnya. Mereka menyatakan bahwa pengetahuan tenaga kesehatan mengenai konsep kesakitan anak memperbaiki komunikasi antara pakar kesehatan dengan anak mengenai pencegahan dan pengobatan kesakitan. Lagi pula, komunikasi yangdiperbaiki membuahkan intervensi yang lebih efektif pada kesehatan anak.
  6. Mereka percaya bahwa konsep anak tentang kesakitan mungkin mempengaruhi serangan, jalan, dan ‘prognosis’ kesakitan pada anak-anak. misalnya selama tahap awal perkembangan kognitif, anak-anak mungkin yakin bahwa “hanya orang-orang jahat yang jatuh sakit”.
  7. Lebih lanjut, pemahaman yang lebih baik tentang konsep anak-anak tentang kesakitan dan personil medis, membantu para tenaga kesehatan mengurangi kecemasan dan meningkatkan ketaatan pada aturan medis (regiment compliance).

Khusus bagi anak-anak yang sakit kronis dan/atau dirawat di rumah sakit lebih banyak pengetahuan tentang konsep, sikap dan keyakinan mereka itu penting. Konsep-konsep mereka yang salah tentang proses penyakit dan efek pada badan, mungkin mengurangi keinginan mereka untuk menerima pengobatan yang diharuskan. Informasi yang lebih banyak dan lebih baik,seharusnya mengacu kepersiapan yang lebih baik bagi anak muda yang sakit. (Eiser, 1985).
  1. Pengetahuan Tentang Badan (Body Knowledge)
Melukiskan perubahan-perubahan kognitif anak-anak dalam proses memahami badan, pengetahuan dansikap-sikap terhadap badan, hal ini penting dengan berbagai macam alas an (Glaun dan Rosenthal,1987:Eiser,1985):
a.       Pendidikan kesehatan yang efektif tergantung pada pengetahuan anatomi dan fisiologi secara tepat.
b.      Komunikasi dengan anak-anak yang menderita sakit kronis : keterangan-keterangan tentang penyakit , pengobatannya dan konsekuensi-konsekuensinya seharusnya tidak hanya berwujud versi-versi buku-buku medis melainkan dibuat cocok dengan status kognitif.

Tidak mengherankan bahwa pengetahuan tentang badan bertambah bersama umur, tetapi tantangan yang sesungguhnya ialah menerangkan mengapa pengetahuan anak itu maju dengan urutan yang dapat diramalkan (Glaun dan Rosenthal,1987) atau bagaimana pengetahuan semacam itu diperoleh (Eiser, 1985).
Cridder, pada tahun 1981 berhipotesis bahwa pengetahuan anak tentang badan itu bertambah lewat urut-urutan sistematis dan dapat diramalkan,mengikuti tahap-tahap Piaget. Penelitian lainnya sepertinya menegaskan kerangka ini dan mengemukakan bahwa urutan tertentu dalam memperoleh pengetahuan mungkin paling baik dapatdipahami dalam kerangka teori perkembangan Piaget (Glaun dan Rosenthal, 1987). Namun, rangka konseptual ini jugadikritik (Eiser, 1985). Galun dan Rosenthal sudah melihat kelemahan-kelemahan metodologis yang disebabkan adanya kepercayaan yang berlebihan atas menggambar sebagai sarana untuk mendapatkan informasi dari anak-anak. Mereka menambahkan wawancara untuk memperoleh keterangan anak tentangpersepsibadannya.eiser (1985)masih menandaskan bahwa metoseini mungkinmenutupi konsep-konsep yang salah mengenai badan.
  1. Konsep-Konsep Penyakit dan Kesakitan
Pada masa silam, perhatian lebih banyak diberikan kepada segi-segi psikodinamiskesakitan anak-anak.penelitianpsikodinamis memusatkan pada pengaruh intrapsikis kesakitan (Burbach dan Peterson, 1986).contohnya, hubungan antaraopname di rumah sakit dan kecemasan akan perpisahan (separation anxiety).
Pendekatan-pendekatan sosiologis memusatkan pada factor-faktor social dan budaya , dan menekankan pengaruh kuat proses sosialisasi umum pada keyakinan kesehatan anak dan perilaku peran sakit (sick-role behavior). Campbell, seorang pendukung pendekatan ini, menekankan hubungan penting antara cirri-ciri statussosial orangtua dengan orientasi-oerientasi kesehatan anak dan perilaku berikutnya (Campbell, 1978).
Bagaimana penyakit kronis bisa mempengaruhi konsep tentangkesehatan dan kesakitan? Dua ramalanteoritis yang berlawanan tentang cara-cara konseptualisasi anak tentang kesehatan dipengaruhi oleh kesakitan yang kronis. Para pekerja yang menerima posisi Piaget, meramalkan bahwa anak-anak yangsakit kronis akan berpengetahuan lebih banyak tentang kesehatan dan hal-hal yang terkait daripada anak-anak yang sehat. Suatuposisi alternative ialah bahwa “…the experience of illness has such overwhelming emotional commitants that the level of conceptualization with respectto the illness is inhibited or regressed..”(Eiser, 1985 ; Eiser,dkk,1983). Data-data dari Eiser dkk (1983) menyarankan bahwa keyakinan yang umum tentang konsep-konsep yang berkaitan dengan kesakitan, aiantara anak-anak tidak pengaruhi oleh status kesehatan seseorang.
Menurut Eiser, Patterson dan Tripp (1984) sebagian besat penelitian ini tidak membandingkan antaraanak yang sehat dengan anak yang sakit, sehingga kesimpulan-kesimpulan dari penelitian tersebut terbatas. Untuk mengatasi problema ini mereka membandingkan anak-anak diabetes dengan kelompok anak sehat. Mereka menyimpulkan bahwa penyakit kurang mempengaruhi (secaralangsung)konsep-konsep anak tentangpenyakit; pengetahuan tentang beberapa segi penyakit tergantung baik pada umur anak maupun pada penyakit.
(sumber : Smet,Bart.1994.Psikologi Kesehatan.Jakarta:Grasindo.)

Resources

Search