Sabtu, 18 Juni 2011

HIPERTENSI PARU (HIPERTENSI PULMONAL)



Oleh Elok Dyah Messwati


            Hipertensi paru (pulmonal) merupakan penyakit fatal di mana tekanan di pembuluh darah (pembuluh arteri) pada paru-paru tidak normal, disebut juga "tekanan darah tinggi pada paru-paru".   
            Pada hipertensi paru, pembuluh arteri kecil yang menyuplai darah tertekan dan menyebabkan tekanan darah di pembuluh meningkat. Karena itu, sangat sulit bagi darah untuk melewati paru-paru. Jantung harus memompa lebih kencang untuk dapat mengurangi tekanan tersebut.
            Ada dua jenis hipertensi paru: primer dan sekunder. Hipertensi paru primer muncul tanpa sebab yang jelas, sementara hipertensi paru sekunder muncul karena sebab yang jelas, seperti cacat jantung bawaan, penyakit yang berhubungan dengan jaringan, infeksi HIV,
penggumpalan darah, pengobatan, keracunan, dan lain-lain.
            Prof dr Harmani Kalim MPH SpJP (K), Kepala Pelayanan Medis Unit Emergensi dan Cardiovascular Care RS Jantung Harapan Kita, menjelaskan, munculnya penyakit hipertensi paru ini tidak diketahui. Diperkirakan penyakit ini diderita oleh satu-dua juta orang per tahun.
            Di Indonesia belum ada data yang jelas. Hipertensi paru sekunder lebih banyak. Namun, diperkirakan lebih tinggi karena kurangnya kesadaran akan hipertensi paru dan sulitnya penyakit ini didiagnosa. Kurangnya data penyakit hipertensi paru menyebabkan banyak orang menganggap remeh dan tidak memerhatikan penyakit ini. Padahal, jika
tidak diobati, harapan hidup penderita hipertensi paru hanya kurang dari tiga tahun.
          

  Gejala-gejala awal hipertensi paru mirip dengan kondisi-kondisi lain sehingga hipertensi paru menjadi tidak terdeteksi dan mencapai tahap lanjut. Jadi, jika Anda mengalami susah bernapas, cepat lelah, sakit di dada dan pusing, serta kaki menjadi bengkak, jangan diremehkan. Segeralah mencari tahu apa yang sedang Anda derita karena bisa jadi Anda terserang hipertensi paru.
            Pada tahap awal hingga lanjut, gejala-gejala tersebut menjadi semakin parah sehingga menghambat aktivitas hidup.

Diagnosa
            Untuk mendiagnosa hipertensi paru, dokter dapat melakukan satu atau lebih tes untuk mengevaluasi kerja jantung dan paru-paru pasien. Hal ini termasuk X-ray di daerah dada untuk menunjukkan pembesaran dan ketidaknormalan pembuluh paru-paru, echocardiograms yang menunjukkan visualisasi jantung, mengukur besar ukuran jantung, fungsi dan aliran darah, dan mengadakan pengukuran tidak langsung terhadap tekanan di pembuluh paru-paru.
            Selain itu juga bisa dilakukan electrocardiograms (ECG) yang menunjukkan aktivitas elektrikal dari jantung dan memperlihatkan perubahan pada ritme jantung dan ketebalan dinding jantung.

            "Tidak hanya itu, juga perlu dilakukan pengateteran jantung untuk mengukur tekanan dan jalan darah," papar Prof dr Harmani Kalim. Pulmonary function test (tes fungsi paru-paru) untuk memastikan penyebab sumbatan juga diperlukan.
            Kesalahan diagnosa sering dilakukan oleh para dokter karena kurangnya pengetahuan dokter mengenai penyakit hipertensi paru ini. Banyak pasien seperti halnya Emma Irmawati didiagnosa salah dan penyakit diarahkan pada kembung atau liver, padahal sebenarnya yang
diderita adalah hipertensi paru.
            Oleh karena itu, pengetahuan tentang penyakit hipertensi paru ini perlu disebarkan agar masyarakat pun makin peduli jika dirinya atau orang terdekat di sekitarnya mengalami gejala-gejala serupa agar tidak salah dalam penanganan lebih lanjut. Jika salah memberikan
perawatan/penanganan, justru bisa melukai organ tubuh lainnya. Akibatnya, kondisi si penderita hipertensi paru ini semakin parah karena tidak tertangani dengan benar.
    "Bahkan, masyarakat memandang enteng penyakit ini dan kurang memerhatikan," kata Prof Harmani Kalim.
            Pada anak-anak
            Meskipun yang diserang hipertensi paru umumnya orang dewasa diusia produktif saat mereka sedang sibuk membangun karier, anak-anak pun bisa terkena. Dr Ganesja M Harimurti SpJP(K), Kepala Divisi Kardiolog Anak RS Jantung Harapan Kita, menyebutkan, hipertensi paru pada anak umumnya  hipertensi paru primer. Pada bayi yang baru lahir sering tidak terdeteksi karena tidak ada tanda-tanda signifikan.
            Namun, sebenarnya itu bisa diketahui dengan memerhatikan betul apakah si anak susah minum atau bibir dan kuku jarinya membiru. Jika sudah demikian, maka ia harus dibantu dengan mesin jantung paru di ruang ICU walau keberhasilannya sangat kecil.
            Karena itu, sangat penting untuk diperhatikan, jangan sampai anak dengan penyakit jantung bawaan terlambat dibawa ke dokter. Tingkat kecurigaan perlu dimiliki oleh keluarga dan dokter yang menangani si anak.
            Menurut Ganesja Harimurti, RS Jantung Harapan Kita pernah menangani tiga kasus anak dengan penyakit jantung bawaan yang kemudian dilakukan operasi, dan kemudian terjadi hipertensi paru kritis pascabedah. Namun, setelah diberi bantuan inhalasi, makin lama
kondisi pasien membaik.
            Hipertensi paru pada anak dengan penyakit jantung bawaan bisa muncul pada saat si anak masih bayi ataupun saat anak berusia empat tahun. "Hipertensi paru lebih cepat terjadi pada penyakit jantung bawaan kalau sering terjadi infeksi paru," ujar Ganesja Harimurti.   
            Menurut kardiologis Bambang Budi Siswanto MD FIHA PhD, seumur hidup penderita hipertensi paru harus terus mengonsumsi obat untuk mempertahankan kondisi fisiknya. Tekanan arteri parunya diusahakan normal, yakni 30-40 mm hg. Jika tekanan sudah di atas 40-60 mm hg, itu sudah memasuki tekanan sedang. Tekanan berat adalah yang
ukurannya di atas 70 mm hg. Bahkan, ada yang pernah 90 mm hg.
            Sampai saat ini tidak ada penyembuhan untuk hipertensi paru. Fokus utama dari pengobatan hipertensi paru adalah menyediakan tahun-tahun terbaik bagi pasien, membuat penderita dapat menjalani aktivitas sehari-hari, dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik.
    Tidak hanya ketekunan untuk terus berobat. Semangat dan daya hidup dari si pasien juga diperlukan untuk tetap bertahan menjalani hari-harinya. Dan yang paling penting, jangan meremehkan hipertensi paru yang merupakan penyakit fatal karena berkait erat dengan denyut hidup kita....

Dimuat di Kompas 1 September 2006

0 komentar:

Posting Komentar

Resources

Search